One Woman s Journey Into Manhood and Back Again by Norah Vincent
See a Problem?
Thank you for telling us most the problem.
Friend Reviews
Community Reviews
Dengan berani, penulis tanpa operasi kelamin dan penyuntikan hormon, mampu mengkamuflasekan tubuhnya sebagai seorang lelaki tulen bernama Ned. Kemudahan yang menguntungkannya hanyalah karena kebetulan dari kecil memang penulis terkenal tomboy Ditengah polemik kesetaraan gender di dunia yang sepertinya tak juga berkesudahan, tiba-tiba buku ini menyeruak dengan keberanian penulisnya Norah Vincent, untuk mengintip bagaimana sejatinya kehidupan seorang lelaki langsung dari tubuh lelaki itu sendiri.
Dengan berani, penulis tanpa operasi kelamin dan penyuntikan hormon, mampu mengkamuflasekan tubuhnya sebagai seorang lelaki tulen bernama Ned. Kemudahan yang menguntungkannya hanyalah karena kebetulan dari kecil memang penulis terkenal tomboy dan kebetulan setelah dewasa memilih kehidupan seksual sebagai seorang lesbian.
Dimulai dengan memotong pendek rambutnya laiknya potongan lelaki, memakai pakaian laki-laki, mengenakan bra olahraga yang sangat sempit untuk menutupi payudara dan meminta bantuan brand up artis akhirnta penulis benar-benar bisa berperforma laiknya lelaki. Tentu saja hal ini tak mudah. Untuk urusan kumis saja, konon ia sempat mencoba-coba kumis palsu sampai 150 kali sebelum akhirnya menemukan yang cocok. Tak tanggung-tanggung, penulis juga memakai penis palsu untuk menyempurnakan penyamaran kelelakiannya. Setelah penampilannya mumpuni ia pun berlatih keras pada seorang pakar teater untuk bisa bersuara seperti laki-laki. Setelah semua berhasil dilakukannya akhirnya ia pun siap terjun ke kandang lelaki sampai akhirnya buku ini berhasil ditulisnya.
Temuan di atas merupakan salah satu temuan positif yang dituliskan penulis dalam buku ini. Selanjutnya secara detail dan deskripsi yang naratif penulis menuliskan seluruh temuannya yang mengagumkan ke dalam buku ini. Misalnya temuannya bahwa ternyata bagi laki-laki sex activity adalah hasrat. Hal ini dituliskannya secara menyakinkan dengan cerita pengalamannya saat mengamati wajah laki-laki di klub penari telanjang. Dari situ Vincetn jadi bisa mengambil kesimpulan bahwa yang terjadi pada saat itu bukanlah apresiasi tentang perempuan dan juga bukan apresiasi tentang seksualitas mereka. Menurutnya itu adalah hasrat, dan bukan cuma kesenangan belaka.
Buku "Female Clandestine" yang merupakan hasil penulisan pengalaman penulis selama eighteen bulan penyamarannya sebagai lelaki tersebut nampaknya benar-benar sebuah buku yang pantas dibaca oleh semua orang yang selama ini tergelitik dalam permasalahan gender, feminisme dan maskulinitas. Baik pembaca dari kalangan laki-laki maupun perempuan. Temuan-temuan yang diungkapkan penulis melalui buku ini bisa jadi akan membawa sebuah kesadaran yang berbeda dalam perseteruan gender yang selama ini tak juga mendingin. Boleh jadi superioritas lelaki yang selama ini digugat oleh kaum feminis bisa mencair. Pasalnya, ternyata tak hanya perempuan yang terkungkung oleh konsepsi budaya yang ada. Lelaki pun turut menjadi korban dari kungkungan budaya tersebut.
Meskipun permasalahan yang diungkapkan penulis dalam buku ini cukup serius, namun kita boleh tetap bernafas lega saat membacanya. Gaya bercerita yang lucu, narasi yang mengalir segar, drama-drama yang mendebarkan jantung, serta penyertaan sekuen-sekuen yang menghibur menjadikan buku yang seharusnya sangat provokatif ini menjadi sangat menyenangkan. Secara cerdas penulis tidak menampar salah satu gender. Melainkan cukup menggelitik pemikiran kedua gender yang kerap berseteru tersebut untuk kembali merevisi kesalahpahaman yang pernah mereka yakini sebelumnya.
Buku ini merupakan sebuah dokumentasi yang mampu menjadi jendela bagi pembacanya dalam memahami eksistensi gender khususnya laki-laki, namun sekaligus menjadi cermin untuk melihat apakah pemikiran kita selama ini sudah benar dengan kondisi yang berlaku sebenarnya.
Gejolak rasa penasaran yang menggebu benar-benar mendera kita saat membacanya, sampai tak sadar kita telah sampai di halaman ke-512. Halaman terakhir yang menyisakan tanya pada diri sendiri, "Trus enakan jadi laki-laki atau perempuan ya?"
Buku ini adalah hasil pengalaman pribadi dari penulisnya. Riset yang dilakukannya benar-benar objektif. Vincent merubah penampilannya sebagai seorang pria untuk mendalami seperti apa dunia pria itu sebenarnya. Dan hasil pengamatannya itu disajikannya dengan cukup gamblang dan seimbang. Selain mengungkap seperti apa kehidupan lelaki it
Aku jelas tertarik dengan judulnya. Terutama tagline-nya: "Menelanjangi dunia lelaki. Kisah Nyata Petualangan Wanita Menjadi Pria Lalu Kembali Lagi Menjadi Wanita."Buku ini adalah hasil pengalaman pribadi dari penulisnya. Riset yang dilakukannya benar-benar objektif. Vincent merubah penampilannya sebagai seorang pria untuk mendalami seperti apa dunia pria itu sebenarnya. Dan hasil pengamatannya itu disajikannya dengan cukup gamblang dan seimbang. Selain mengungkap seperti apa kehidupan lelaki itu, tidaklah lengkap jika di buku ini tidak ada perbandingan bagaimana kehidupan wnita itu. Tapi vincent telah membuat perbandingan yang seimbang. Sehingga buku ini cocok dibaca siapa saja tidak mengenal gender. Karena para lelaki yang membacanya pun akan menemukan informasi bagaimana seluk beluk wanita itu.
Norah Vincent mampu membawakan penyamaran yang sangat sempurna hingga ia bisa mendapatkan banyak sekali info mengenai: persahabatn, seks, cinta dan kehidupan. Satu setengah tahun dalam penyamaran bukanlah waktu yang sebentar. Selama itu pula dia harus mengendalikan emosinya sebagai seorang lelaki. Hal ini justru membuatnya kerepotan ketika di akhir petualangannya, dia harus kembali lagi menjadi wanita. Seperti apa konflik yang disajikan? Baca saja buku ini.
...more
Berupa hasil reportase kehidupan laki-laki dari sudut pandang perempuan. Dan setting nya adalah Amerika, kadang aku berfikir...ahh Republic of indonesia gak separah Amerika di buku ini kok...atau aku yang kurang peka ya? masa sih laki-laki segitunya melihat payudara perempuan?
Buku ini emang gender abies..tapi jenis yang tak bergulat di teori seperti buku2 genderr kebanyakan.kelebihannya ya cuma menceritakan realitas dan sudut pandang penulisny
saat membelinya aku berharap buku ini novel, ternyata non fiksi.Berupa hasil reportase kehidupan laki-laki dari sudut pandang perempuan. Dan setting nya adalah Amerika, kadang aku berfikir...ahh Republic of indonesia gak separah Amerika di buku ini kok...atau aku yang kurang peka ya? masa sih laki-laki segitunya melihat payudara perempuan?
Buku ini emang gender abies..tapi jenis yang tak bergulat di teori seperti buku2 genderr kebanyakan.kelebihannya ya cuma menceritakan realitas dan sudut pandang penulisnya.
Aku gak selesai membacanya...keburu di jadi kado penghibur untuk adik yang sedang sedih.
Meskipun begitu aku sih lebih berharap, buku ini lebih asyik kalau diramu menjadi novel daripada hasil reportase. :(
Tapi sekarang, meskipun kadang2 pengen melakukan seperti yang dilakukan Norah Vincent, gw ga bisa lagi "menyamar". Habis, tinggi badan ga memungkinkan, kecuali kalo mau nyamar jadi cowok pendek...
Waktu masih SD (di luar jam sekolah, tentunya) gw suka disangka anak laki-laki karena berambut cepak, dan pakaian sehari-hari cuma T-shirt dan celana pendek. Dan gw bangga banget kalau ada yang salah sangka begitu (well, dulu memang agak terobsesi pengen jadi anak laki-laki, sih)Tapi sekarang, meskipun kadang2 pengen melakukan seperti yang dilakukan Norah Vincent, gw ga bisa lagi "menyamar". Habis, tinggi badan ga memungkinkan, kecuali kalo mau nyamar jadi cowok pendek...
...more than
Yang patut diacungin jempol, Norah berani mengambil resiko dengan menyamar menjadi laki-laki dan mengikuti kebiasaan2x para pria disekitarnya dan mulai sedikit "terhanyut" oleh peran yang dia lakoni... Wow..dulu gw sempat kepiiran buat nyamar jadi cowok..ternyata "ide gila" ini udah dipraktekkan langsung oleh Norah Vincent.
Yang patut diacungin jempol, Norah berani mengambil resiko dengan menyamar menjadi laki-laki dan mengikuti kebiasaan2x para pria disekitarnya dan mulai sedikit "terhanyut" oleh peran yang dia lakoni... ...more than
mungkin akan lebih baik jika baca versi aslinya.
tapi tetap saya dapat bbrp inspirasi berharga dari buku tsb.
ps. kalau mau lihat profil asli perbandingan saat dia jadi perempuan dan lelaki, lihat buku ini yg edisi lain deh. jelas sekali. samaran yg bagus. laki banget. heheh.
Gw gak bisa nikmati gaya bertutur Norah ;(
Vincent
Vincent was a senior fellow at the Foundation for the Defense of Democracies from its 2001 inception to 2003. She has also had columns at Salon.com, The Advocate, the Los Angeles Times, and The Hamlet Voice. Her essays, columns and reviews accept also appeared in The New Republic, The New York Times, The New York Post, The Washington Post and many more regional newspapers around the state.Vincent is a freelance announcer and in 2003 she took a get out from writing her nationally syndicated political opinion columns in order to write her New York Times bestselling book Cocky-Made Homo, the story of a woman living, working and dating in elevate as a human.
She holds a bachelor'due south degree in philosophy from Williams College. She currently resides in New York Urban center.
...moreRelated Articles
Welcome dorsum. Just a moment while we sign you in to your Goodreads account.
Source: https://www.goodreads.com/id/book/show/29434.Self_Made_Man
Belum ada Komentar untuk "One Woman s Journey Into Manhood and Back Again by Norah Vincent"
Posting Komentar